Royal Flush, mbois.. – View on Path.

#OnePieceMeme – View on Path.

Demon Days — Gorillaz – View on Path.

Travis Barker by ~dedefaisal

aaaak… Travis! \o/

scrimshanker by ~dedefaisal

hae, pemalas (,—)/

:’)

:’)

Tegal by ~dedefaisal

ay lop yu pul ( ._.)c[_]

uwuwuwuuu~ (っˆ ³(´⌣`c)

"Saya suka kamu. Urusan kamu suka saya atau engga, itu urusan kamu."

Itu quote atau bukan, gue ngga tau. Sedikit terdengar egois sih. Terlintas begitu aja di kepala sehabis stalking twitter & tumblr-nya si Anu.

Hmm. Ya. I like her. So, what do u think about me?

QuestionApakah anda menyukai wanita? Answer

pasti. tapi yang lebih pasti lagi, bukan anda. terimakasih. kampret!

"Eh, si Boss nyariin kamu tuh."

"Ngapain?"

"Ngga tau. Tadi sih dia abis nyariin saya setengah mati. Pas ketemu, eh malah dia nyariin kamu juga."

"Si Boss ngga cape apa ya, nyariin kita terus?"

"Ya mau gimana lagi, itu kan cara dia nyari makan. Kalo ngga nyariin kita, mau makan apa dia?"

"Iya juga sih. Kesian tiap hari pusing nyariin kita."

"Eh, tapi si Boss nyari kita buat makan bisa. Giliran nyari kita buat jodoh kenapa ngga ketemu-temu ya?"

"Iya tuh, bodoh banget. Kita cuma dipake buat nyari uang. Tetep aja si Boss jomblo."

"Kayanya si Boss bodoh dalam hal jodoh."

"Bisa jadi sih. Ckckck."


"…"


DIAM!! CEPAT BERKUMPUL KALIAN PARA IDE!! GUE MAU KERJA!!


"Eh! si Boss manggil tuh.. Ayo kita ngumpul.."


"Ayu.. yu.. yu.."



pic source : google

Maaf, karna harusnya surat ini saya tulis delapan tahun yang lalu. Saya tak bisa, saya terlalu malu untuk memberikan surat ini. Jangankan menghampirimu untuk memberikan surat. Bertatap muka denganmu pun saya tak berani, bukan karena takut tapi kamu pasti tahu untuk anak bodoh dengan postur tubuh yang super mungil ini, sedang kamu semacam Diva di kelas saat itu, tinggi, putih bagai melati yang anggun dengan rambut lurus sebahu mengisyaratakan kelembutan yang tersembunyi di balik kebiasaan kamu yang cendrung pendiam kala itu.

Yah benar sekali pasti kamu berpikir tentang kita saat berseragam putih-biru, kita dipertemukan di kelas tiga-dua. Saya tak tahu saat itu kelas perjodohan atau apa. Yang pasti saat kamu melintas di depan mejaku itu saya seperti teriup angin sejuk dari ujung laut saat matahari terbenam, mula-mula hanya memerhatikan kependiamanmu, dan akhirnya lama-lama kita saling kenal entah dari mana mulanya. Yang kuingat selalu setiap ujian atau pekerjaan rumah pelajaran berhitung kamu datang kemeja saya untuk menyalin.

Semakin lama dipertengahan semester perasaan itu mulai tumbuh, entah perasaan apa, mungkin saja perasaan itu yang dinamakan cinta. Kita jadi lebih sering berkomunikasi, pernah di satu kejadian dimana saat itu kamu meminjamkan tas merah yang setiap hari selalu kau bawa, dengan seyum kamu serahkan pada saya dengan maksud meminjamkan karna melihat tas saya yang sudah usang saat itu rusak. Saat itu sungguh saya bingung mengapa kamu begitu peduli pada anak yang boncel dan kusam ini.

Tapi hanya bisa saya pikirkan, tak berani saya tanyakan padamu tentang bagaimana perasaanmu, apakah sama? Apakah memang hanya teman seperti yang lainnya.
Hingga saat itu tiba, yah saat yang paling menyenangkan sekaligus menjengkelkan. Yah kamu benar, kelulusan masa putih-biru kita, saya senang karna saya lulus, tapi sekaligus jengkel karna saat itu saya tau itu hari terakhir jika kita bertemu, tiga jam saya mencari kamu tapi tetap tidak ketemu, sebenarnya saya ingin mengembalikan tas merahmu itu, dan mempertanyakan segala pertanyaan yang ada di benak ini.

Jakarta, 2004

└(˘.˘└)